Powered By Blogger

Sabtu, 12 Maret 2016

7 Hal Seru di Shibuya

 4 Maret 2016, sekitar pukul 13.00 GMT+9

Setelah menentukan rute yang mau dikunjungi hari itu, saya dan Erna-sensei, teman asal Indonesia yang rumahnya saya inapi selama di Jepang, sepakat mengunjungi daerah Shibuya. Sebagai salah satu spot turis di Tokyo, tentu banyak hal seru di sini, terutama spot buat foto-foto narsis ^^. 
Cekidot spot-spot mana aja yang seru buat foto-foto, baik wefie maupun selfie.

1. Patung Hachiko


Begitu keluar dari stasiun Shibuya, kita bisa langsung lihat patung Hachiko, seekor anjing yang setia menunggu tuannya di stasiun Shibuya semasa Perang Dunia II. Kisah mengharukan ini diabadikan dalam bentuk patung yang lokasinya tidak jauh dari pintu keluar stasiun. Cukup banyak turis yang antusias berfoto di depan patung Hachiko. So, pastikan bersabar nunggu antrian foto sama patung anjing jenis Shiba Inu ini ya. ^^

2. Shibuya 109 Men

 


Bangunan ini sering nongol ketika kita search kata "Shibuya" di Google. Buat kamu yang ngaku anak fashionable kekinian, rasanya Shibuya 109 Mens ga boleh gitu aja dilewatin. Buat sista fashionista, Shibuya 109 terletak deket bangunan tersebut. Soal harga, saya kurang begitu tahu sih, soalnya ga sempet masuk ke dalam hehe. Tapi rasanya, bernarsis ria di depan Shibuya 109 pun sudah cukup sebagai bukti kalau kita udah pernah ke Tokyo. 


3. Tower Records


Saya pribadi adalah penggemar berbagai musik Jepang, baik yang menjadi opening atau ending sebuah kartun, maupun yang berasal dari band. Tower Records ibarat one stop shop yang siap memanjakan dahaga kita terhadap musisi favorit. Kalau beruntung, bukan tidak mungkin kamu bakal ketemu artis favorit karena beberapa musisi Jepang suka berkunjung ke Tower Records buat acara peluncuran album atau single terbaru. Sial banget waktu itu, harusnya saya datang ke Tower Records pas malam minggu, karena salah satu band favorit saya SCANDAL berkunjung ke Tower Records buat peluncuran album baru mereka. Duh emang gak jodoh ya gini nih #Curcol

4. Kitty Shop SCANDAL



Paling tidak, meski ga sempat ketemu sama mbak-mbak personil band SCANDAL, saya menyempatkan diri ke sebuah toko kecil yang menjual pernak-pernik band yang berasal dari Osaka, Jepang ini. Meski "baru" berusia 6 tahun (dihitung dari mereka mulai debut, tahun 2008), band yang beranggotakan HARUNA, TOMOMI, MAMI, dan RINA ini berhasil menyedot perhatian penikmat Jpop, ga cuma di Jepang, tapi seantero dunia. Pernak-pernik yang ada di dalam toko sangat beragam, mulai dari handuk, gelang, notebook, hingga photobook. Kalau kamu ngaku fans band ini, jangan sampai deh kelewatan toko ini. Minimal masuk dan negur yang jaga toko juga ga papa, siapa tau bisa nambah kenalan sesama fans, hehe. 


5. Shibuya Crossing 

Selain Shibuya 109, foto orang menyeberang kawasan Shibuya juga sering kita lihat di berbagai media. Tempat ini diklaim sebagai persimpangan paling sibuk di dunia. The Scramble, sebutan lain untuk persimpangan Shibuya bakal bikin kamu berdecak kagum. Jangan lupa juga buat ngecek berbagai jenis papan reklame yang terdapat di sana. Kalau yang saya dapat tangkap, sepertinya spot ini bisa dibilang sebagai spot mahal beriklan; hanya mereka yang bisa menembus ketatnya industri di Jepang yang bisa beriklan di sini. Ah, bakal keren sih kalau bisa selfie di antara kerumunan orang-orang yang lagi melintas ini.

6. Promosi Via Truk


Pas jalan-jalan di pinggir jalan daerah Shibuya, saya melihat truk yang ada gambar personil band Exile yang lagi promo album dan DVD baru. Persis seperti yang saya baca di berbagai artikel, di berbagai kawasan Tokyo seperti Shibuya, Shinjuku, dan Ikebukuro, banyak terdapat truk atau mobil berukuran gede yang digunakan untuk promo musik atau film terbaru.

 7. Graffiti di Shibuya 

(sumber: http://coolphotojapan.com)
Kalau kita cermat mengamati beberapa pojok bangunan, mungkin kita agak kaget karena ada beberapa pemandangan yang cukup kontras. Berbagai jenis graffiti menghiasi sudut-sudut tersembunyi daerah Shibuya. Saya pribadi kurang begitu tahu apakah "hiasan" ini legal atau tidak. Yang pasti sih, graffiti ga bisa dilewatkan begitu saja, karena memang cukup kelihatan kalau kita berjalan lurus ke arah utara. 
Itu tadi 7 Hal Seru yang bisa kamu kunjungi, terlebih lagi bisa buat tempat selfie atau wefie bareng temen. Sampai jumpa di tulisan berikutnya! ^^

Kamis, 10 Maret 2016

Mega Web, Atraksi Otomotif di Odaiba



(sumber: http://www.megaweb.gr.jp)

Buat kamu yang suka dengan otomotif dan motorsport Jepang, tapi sedang tidak berada di perfektur Tochigi atau Mie dimana terdapat Sirkuit Motegi dan Suzuka, ga perlu khawatir karena di Tokyo pun ada satu tempat buat pecinta otomotif. Mega Web, sebuah taman rekreasi bertema otomotif. Taman yang cocok buat tempat rekreasi keluarga ini terletak di pulau buatan Odaiba, sekitar satu jam dari kawasan Shibuya.


Dari jalur utama Tokyo, alias JR Line Yamanote, naik kereta darat arah ke Shibuya. Setelah itu, turun di Stasiun Shimbashi. Setelah sampai di Shimbashi, kita berganti moda transportasi ke monorail jalur Yurokamome tujuan Toyoshu. Nikmati sejenak suasana pulau buatan Odaiba di dalam monorail sebelum turun di Stasiun Aomi. Begitu keluar dari stasiun, kita bisa langsung masuk ke pintu belakang Mega Web. Saya sendiri kemarin lewat pintu belakang, karena memang sebelumnya jalan-jalan di kawasan Diver City Plaza.


Atau, kalau mau jalan kaki agak banyak sebenarnya kita bisa juga turun di Stasiun Odaiba Kaihinkoen, jalan ke arah bangunan Mega Web seperti gambar di atas dan pintu depannya bisa kita lihat sembari berada di area parkiran mobil yang begitu luas! Tiba-tiba ngerasa capek? Tenang aja, ada persewaan sepeda buat kita keliling odaiba. Cukup bayar sekitar 300 yen (bisa lewat Pasmo atau Suica), kita bisa menikmati suasana yang cukup damai.

Mega Web punya tiga bagian utama. Yuk kita bahas taman rekreasi otomotif ini satu per satu!

1. History Garage


Awalnya saya kebingungan karena di bangunan Venus Fort, yang saya lihat cuma mall dengan tema Italia. Untungnya ada peta yang menunjukkan lokasi keren yang terletak di lantai 2 Venus Fort. Ada dua lantai di History Garage buat yang suka dengan balap klasik. Sayangnya, karena ga baca brosur yang udah didapat ketika di masuk wahana Ride Studio, saya melewatkan lantai 1 T-T



 Tapi secara keseluruhan lantai 2 History Garage ini sangat memuaskan para pecinta otomotif dan otosport klasik. Di dalamnya banyak terdapat koleksi mobil klasik, dari mobil keluarga hingga sport dari berbagai brand, mulai dari Nissan hingga Ferrari. Hiasan di dinding pun dibikin sedemikian rupa sehingga kita seolah-olah balik ke era kejayaan otomotif era 50-80an.





Selain koleksi mobil 1:1, banyak juga koleksi miniatur mobil klasik disimpan di lantai 2. Karena Mega Web disponsori oleh Toyota, tentu saja lebih banyak koleksi miniatur mobil-mobil Toyota yang pernah berlaga di berbagai ajang balap, baik tingkat Jepang maupun internasional.











2. Toyota City Showcase

Kita lanjut ke bagian tengah, dimana Toyota menampilkan berbagai inovasi yang telah di lakukan, baik dalam teknologi mobil jalanan maupun mobil balap. Saya sendiri merasa tempat ini lebih cocok dikunjungi bersama keluarga, karena mobil yang ditampilkan tidak melulu tentang balap. Kalau suka sama balap dan ingin tahu track record divisi balap Toyota, Gazoo Racing, kita bisa memuaskan hasrat balap ke lantai 2. Di lantai ini pula, kita bisa coba racing simulator Gran Turismo secara cuma-cuma.








Namun kalau lebih suka otomotif yang lebih "bersahabat", coba aja ke lantai dasar. Layaknya sebuah pameran otomotif, kita bisa melihat berbagai teknologi yang diterapkan ke dalam mobil Toyota. Buat anak-anak, bisa juga coba permainan remote control yang dijamin seru abis. ^^



3. Ride Studio

Wahana Ride Studio memang ditujukan khusus untuk anak-anak. Saya sempat masuk sebentar di sana karena mau tanya lokasi History Garage. Jadi ya, ga sempat melihat aktivitas yang dilakukan anak-anak Jepang nan lucu tersebut ^^


Itu tadi tiga lokasi utama Mega Web yang dijamin memuaskan jiwa pecinta motorsport dan otomotif. Sebenarnya masih ada dua wahana seru lainnya, yaitu Fun Kart Ride dan Ride One. Sayangnya karena saya juga membagi waktu dengan wisata ke daerah Diver City Plaza, dua tempat tersebut ga terjamah sama sekali. #sedih


7 Hal Seru di Haneda

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 jam, akhirnya pukul 22.00 Waktu Jepang, saya menjejakkan kaki di Negeri Sakura untuk pertama kalinya dalam hidup. Bersama dengan Pak Nobon dan Pak Lubis, rekan Indonesia yang saya temui di pesawat, kami sama-sama antri dulu di bagian imigrasi. Untungnya sih antriannya ga terlalu panjang, mungkin karena emang bukan musim libur kali. Setelah kelar di imigrasi, kami ternyata disuruh nulis form bea cukai ketika memasuki sebuah negara. Isinya sih kurang lebih sama ketika kita mau masuk ke negara lain. Setelah kurang lebih 20 menit ngurusi form, akhirnya saya secara resmi TIBA DI JEPANG! Saya sejak awal memutuskan buat nginep di bandara, karena memang waktunya sudah terlalu larut, plus saya pikir transportasi umum sudah jarang pada jam 23.00 (kecuali kalau mau taksi yang tarifnya sampai satu juta buat jarak Haneda-pusat kota Tokyo). Pak Nobon akhirnya memutuskan naik taksi, sedangkan Pak Lubis udah dijemput sama rekannya.

So, itu tadi gambaran singkat tentang awal mula saya menjejakkan kaki di Jepang. Nah, di Bandara Haneda sendiri, kita bisa banyak lihat hal-hal menarik lho! Mau tau apa aja? Cekidot!

1. "Tempat Tidur" Gratis



Kalau kata teman-teman traveller, menginap di bandara bukanlah hal baru lagi sebenarnya. Selama tidak dilakukan di lantai atau tempat tempat yang mengganggu kenyamanan lalu lintas bandara, silakan aja cari spot buat beristirahat, terutama buat menunggu pagi hari. Nah di Haneda ini, selain kursi tunggu, sebenarnya kita bisa juga tidur di restoran-restoran bergaya tradisional Jepang yang ada di lantai 4. Saya sendiri waktu itu coba tidur di lantai 5, karena memang ruangan itu yang agak tenang dibanding lantai bawah yang sedang banyak petugas benerin area rumah makan.

2. Make A Wish in Haneda! 




Sepertinya tradisi "make a wish" mau ditonjolkan sejak awal para turis asing tiba di Haneda. Cukup membayar sekitar 100 yen, kamu bisa beli papan kayu yang berisi harapan kamu, baik buat keluarga atau keinginan lainnya seperti bisa balik ke Jepang lagi. Tapi, menurut saya pribadi sih lebih seru melakukannya langsung di kuil-kuil tradisional Jepang seperti Asakusa.

3. Plane Simulator



Di lantai 5, bagian Hot Room, (sebelah kiri ketika kita naik elevator) ada satu spot menarik, terutama buat anak-anak yang suka dengan pesawat terbang komersil. Sayangnya, ketika menemukan spot ini waktu masih menunjukkan pukul 07.00, plus saya harus mengejar bus ke Tokorozawa. Jadi ya saya cuma melewatkan spot ini sekenanya saja ^^

4. Plane Display


Di dekat simulator pesawat, terpampang berbagai jenis pesawat dari maskapai nomor wahid di negaranya masing-masing. Informasinya ada dalam bahasa Jepang dan Inggris, jadi ga perlu khawatir buat yang ga ngerti tulisan Kanji. Garuda Indonesia juga ikutan mejeng di sini lho! ^^


5. Suasana Tradisional Jepang


Salah satu alasan klasik turis asing ingin mengunjungi Jepang tentu saja ingin melihat bangunan tradisionalnya. Di Haneda, kamu bisa melihat gambaran bangunan tradisional tersebut dengan sangat keren. Dari mulai ukiran hingga lukisan-lukisan kuno ala era Sengoku (perang) ditata dengan apik di lantai 4 Bandara Haneda. Di lantai ini pula, terdapat banyak makanan, baik tradisional maupun modern. Harganya juga cukup terjangkau meskipun berada di kawasan bandara.


6. Mushola


 
Yap! Kamu ga perlu khawatir lagi kalo misal mau menunaikan ibadah sholat karena pihak pengelola bandara Haneda udah menyediakan Prayer Room. Lokasinya emang agak nyempil sih, pokoknya sebelah pojok kiri pusat informasi begitu sampai di lantai 3. Meskipun muslim adalah kaum minoritas di Jepang, kondisi mushola nya sendiri sangat bagus. Air buat wudhu nya ada pilihan air dingin atau panas, menyesuaikan kebutuhan di dua kondisi udara.


7. Suasana Pagi Hari 


Habis sholat subuh, ada baiknya balik ke lantai 5, di Observation Deck. Di sana kita bisa lihat dengan jelas matahari terbit dengan cantiknya. Kalau mau lihat lebih dekat suasana bandara, ada beberapa teropong yang bisa kita pakai cukup dengan memasukkan koin 100 yen. Kita juga bisa makan sambil menikmati suasana karena tersedia beberapa meja dan kursi di area tersebut.


Tuh, di Haneda aja udah seru. Gimana lagi di Tokyo nya? So, ikuti terus tulisan dari saya ya! ^^


Rabu, 09 Maret 2016

Hal-Hal Seru di Jepang!

Hi readers (atau apa ya panggilannya ya, udah lupa hehe)

















Setelah lama ga nulis, kali ini aku mau sharing berbagai hal seru yang udah aku alami selama trip 5 hari di Tokyo, Jepang. Berikut ini list yang seru-seru di seantero Tokyo

7 Hal Seru di Haneda

7 Hal Seru di Shibuya

7 Hal Seru di Asakusa

7  Hal Seru di Odaiba

6 Hal Seru di Akihabara

7 Toko Seru di Tokyo

7 Hal Unik di Tokyo

Mega Web, Atraksi Otomotif di Odaiba

Bahkan di Tokyo pun, banyak hal seru yang bisa kamu kunjungi dan lakukan, So, make sure baca-baca tulisan di atas ya ^^

Kamis, 08 Oktober 2015

Fashion Essence: Watch

Hi guys! After a loooong time, now I'm back. And this time, I would like to talk about one thing that recently pulls my interest; fashion. I do understand that for the whole 25 years I spend my time being too "geeky". As an adult man, it is very essential for us to be fashionable, for the purpose of confidence. To become a fashionable man or woman, many outfit can be worn, and one of them is wrist watch. To be honest, I used to prefer digital watch to fashion or formal watch. However, recently I tend to favor formal watch to raise my confidence especially in formal occasion. One day, my office mate recommends me one brand called Invicta Grand Diver.
From the yellow box, comes the true excellence of fashion watch. Invicta is made with solid material, with a state of the art design as well. The silver shining color is trully an essential have for fashion lover. Nevertheless, the size of the belt is quite long for those who has small wrist, so it is necessary for you to reduce the diameter. Due to the fact that I have small wrist, the circle of the watch seems to engulf my whole hand. If only it were smaller, I would certainly love Invicta Grand Diver.
Behind the watch, there is a sign "Water Resistant 200M". To prove its waterproof durability, I sank The Grand Diver watch to the shower room, and voila! The needle still worked normally. I did another waterproof test, by splashing it with water from shower. And there was no sign of irregularity. Still unsatisfied, I dropped the watch 3 times to the floor, and surprisingly there was no scratch at all!
Overall Invicta Grand Diver is perfect for fashion lover who also love challenge. Its durability ensures your life adventure to be as fashionable as possible, and also as thrilling as possible!

Minggu, 13 Juli 2014

Cyberpunk: Fenomena Fiktif yang Nyata

(Banyak sekali pendapat mengenai pengertian cyberpunk. Dalam tulisan ini, saya akan mengambil terms cyberpunk yang merupakan salah satu sub-genre fiksi ilmiah dalam game, novel, animasi, maupun film. )

Percaya tidak percaya, telah muncul tanda-tanda dari sebuah era yang dalam dunia fiksi disebut cyberpunk. Memang kalau dibandingkan dengan dunia yang ada di berbagai karya fiksi seperti Neuromancer, Akira, Blade Runner, maupun Deus Ex, situasi yang ada saat ini belum sepenuhnya mencerminkan suasana yang begitu high-technya;  paling tidak fenomena-fenomena lazim yang ada dalam dunia fiktif seperti body enhancement dan cyberbrain belum selazim ketergantungan kita terhadap smartphone, pc, dan internet. Namun, dampak yang timbul dari ketergantungan tersebut kurang lebih sama seperti yang digambarkan dalam berbagai karya cyberpunk.



Donald M. Hassler dalam bukunya yang berjudul New Boundaries in Political Science Fiction mengaitkan fenomena perkembangan teknologi dan informasi secara cepat dengan degradasi sosial yang terjadi setelahnya. Biasanya, terjadi kesenjangan ekonomi antara kaum borjuis dengan masyarakat kelas bawah. Anehnya, meskipun tergolong masyarakat kelas bawah, mereka masih mampu untuk memiliki dan mengakses berbagai macam informasi dan teknologi. tentu aja, kualitas teknologi dan informasi yang didapat berbeda dengan mereka yang tinggal di apartemen mewah. Software dan hardware telah menjangkau semua kalangan, persis seperti keadaan saat ini dimana smartphone dan touch screen nya bukan lagi barang mahal seperti 7 tahun silam.

Mereka yang doyan bersosial media dan berselancar di dunia maya telah banyak digambarkan dalam berbagai cerita cyberpunk sejak era 80an. Gambar komputer yang ditanam di otak ini mungkin dianggap berlebihan bagi sebagian masyarakat. Namun, sadarkah kita bahwa fenomena ini bisa saja terjadi di masa depan? Saat ini, banyak dari kita yang benar-benar tidak bisa berpisah sedetik pun dari gadget yang dimiliki. Daripada repot bawa banyak gadget, mending ditanam di dalam tubuh saja biar praktis, bukankah begitu? :)

                          
                                                           Google creating Cyberbrain? Who knows? :)

Jika penanaman chip komputer ke otak tetap akan terasa mengerikan, hal yang masih mungkin dikembangkan saat ini adalah perangkat VR (Virtual Reality). Dengan perangkat mirip kacamata selam, kita bisa mengalami sensasi semu yang nampak begitu nyata; kita bisa merasakan hembusan angin ketika berada di sebuah gunung virtual. Pun kita akan merasakan kesakitan jika sedang bermain game online bersama teman-teman. Sudah tidak sabar ingin mencicipi VR? Kalian tidak perlu khawatir karena raksasa IT Google dan Facebook tengah bersiap melepas Glass dan Oculus Rift nya ke pasar bebas.

Pesatnya arus informasi dan perkembangan teknologi tentu akan berbahaya bila tidak ada yang mengatur. Dalam berbagai karya fiksi, terdapat mega korporasi yang mengatur teknologi tersebut, seperti OmniCorp dan Sarif Industries dalam RoboCop dan Deus Ex: Human Revolution. Saat ini, mega korporasi pun tengah berlomba-lomba untuk menghasilkan berbagai jenis produk teknologi dan informasi; dari mulai gadget sehari-hari hingga teknologi baru yang mustahil ada di benak banyak orang, seperti VR.

Tidak ada yang tahu jawaban yang pasti, kapan teknologi tersebut akan menjadi nyata. Satu hal yang pasti, meskipun tidak seperti dalam film, suatu saat mereka akan hadir di tengah-tengah kita dan kita sebagai manusia mau tidak mau akan menerimanya sebagai suatu kebutuhan, layaknya internet saat ini dimana pada era 90an merupakan hal yang sangat eksklusif. :)













Senin, 14 April 2014

Tenggelam dalam Lautan Fiksi (Part II: Those Who Never Fails to Amuse Me)

Selain game, film adalah teman fiktif kedua ku kalau lagi sendirian. Aku pribadi sebenarnya ga mempermasalahkan siapa yang membuat/ memerankan film tersebut. Selama jalan ceritanya enak diikuti, so pasti aku tonton. Nah, kalau bicara soal preference, aku punya empat sutradara (ga semuanya full sutradara, ada juga yang ngerangkap posisi lain seperti chara design) yang entah kenapa selalu berhasil bikin aku gampang notice ciri khas masing-masing. Berikut ini sutradara yang dimaksud plus gaya khas bikin film nya: 

1. Quentin Tarantino

Sebagian besar orang sudah ga asing sama saga Kill Bill Vol 1 dan 2. Sutradara asal Tennessee, Amrik ini sebenarnya ga cuma dikenal berkat aksi seorang Beatrix Kiddo dalam membalaskan dendamnya terhadap mantan pacarnya ini doang lho! Jauh sebelum Kill Bill, Quentin Tarantino udah bikin film-film dengan alur dan gaya cerita yang nyeleneh, seperti Reservoir Dogs, Pulp Fiction, dan Jackie Brown. Dari segi pemilihan tema, Quentin Tarantino bukanlah sutradara yang suka membuat dunia yang terlampau fiktif; everything that happens/ happened around us is more than enough. Dengan sentuhan emasnya, dia bisa membuat jalan cerita yang unik, bahkan diluar nalar orang pada umumnya, seperti seorang stunt driver yang ternyata adalah pembunuh dalam Death Proof. Oh ya, komedi satir plus segmentasi film ke dalam beberapa chapter adalah ciri khas doi di beberapa filmnya. 

So, kata kunci buat sutradara berusia 51 tahun ini adalah: unusual plot

2. Mamoru Oshii
Sebenernya aku ga terlalu tahu ciri khas sutradara ini kalau dia ga team up sama Kenji Kawai sebagai music composer nya. Film pertama yang aku tonton adalah Patlabor the Movie. Kesan yang aku tonton pas nonton film nya benar-benar beda sama apa yang aku dapat dari serial tv nya; suasana cerita bener-bener, how should I put it, semi-dark, relaxing, dan ketegangan cerita yang dibangun secara perlahan-lahan. Ga cuma Patlabor aja, film-film lain seperti Ghost in the Shell, Jin Roh, dan Assault Girls pun seolah punya nuansa yang sama, meskipun tema dan setting ketiga film tersebut jauh berbeda. Mamoru Oshii berusaha menampilkan unsur realisme yang dipadu dengan imajinasi dalam karya-karyanya. 

Kata kunci buat menggambarkan salah satu sutradara anime veteran ini adalah: atmosphere making


3. Shotaro Ishinomori
Bisa dibilang, beliau adalah salah satu mangaka generasi awal yang cukup berpengaruh hingga saat ini. Shotaro Ishinomori terkenal lewat karya-karya legendaris seperti Cyborg 009 dan Kamen Rider. Dua judul tersebut sebenarnya sudah bisa merepresentasikan ciri khas dari karya-karya beliau; manusia dengan kekuatan super. Tengok saja karya-karya lainnya seperti Inazuman dan Kikaider yang kental akan nuansa rekayasa teknologi. Musuh dari sang jagoan utama kebanyakan berwujud organisasi rahasia dengan tujuan utama yang masih cukup absurd di awal-awal cerita, sehingga menciptakan kesan horor juga mewarnai di hampir semua karyanya, seperti di Skull Man. Oh ya 1 lagi, most heroes wear scarf!

Ga berlebihan rasanya kalau kata kunci yang tepat buat Shotaro Ishinomori adalah: realm making

4. Keita Amemiya
Jauh sebelum Garo, beberapa dari kita udah pernah nonton Choujin Sentai Jetman di TV. Keita Amemiya berhasil bikin serial sentai yang dibumbui konflik personal dan cinta segitiga antar karakter utamanya, padahal target penonton utama serial yang diadaptasi ke US jadi Power Rangers ini  adalah anak-anak! Tapi menurutku, bukan itu kekuatan utama sutradara yang kerap tampil mengenakan topi hitam ini. Dia ahli menggabungkan hal-hal berbau etnis tradisional dan futuristik ke dalam karya-karyanya. Kombinasi tersebut bisa dilihat dalam Zeiram, Mirai Ninja, serta franchise yang masih on going hingga sekarang, Garo dan Gouraigan.


Hampir sama dengan Shotaro Ishinomori, kata kunci yang bisa disematkan kepada Keita Amemiya adalah: realm making


Minggu, 16 Maret 2014

Melepaskan Lelah...(Part I)


Evening, all!

Pernah gak kalian ngerasain sebuah pengalaman yang bikin kalian terkagum-kagum, sampai-sampai segala macam penat yang dialami sebelumnya tu ilang gitu aja? Minggu kemarin, aku baru aja ngalamin hal itu. Thanks to my friend, Indah Febbriani aka Nyoro, I saw something that's quite rare to see in the metropolis like Jakarta. Aku sendiri masih heran, ada ya tempat macam Kepulauan Seribu di Jakarta? (lol, maklum orang rumahan yang sedang berusaha melihat dunia :malu:)




Pagi-pagi buta aku udah sampai di Stasiun KRL Pondok Jati buat nunggu kereta. Begitu kereta dateng, langsung aku melenggang ke dalam salah satu gerbong. Padahal masih pagi-pagi buta, tapi udah banyak aja orang yang naik kereta. Hari Sabtu pulak. Pada mau kemana sih? (abaikan)

Jugijagijugijagijug


Sialnya, gara-gara belum kencing, terpaksa aku turun di Senen dan nunggu kereta berikutnya yang ke arah Duri! Telat nih! Untungnya sih mas korlab nya mau sabar nungguin kami sampai di masjid dekat tempat pelelangan ikan. Jadi kami agak tenang meski harus gonta ganti angkot. (sekedar tips. Mending kalau ada temen yang punya mobil, you better ask your friend to drive to go there together! Sumpah susah bener harus gonta ganti angkot. Mana habis Rp. 15.000 pula buat sampai ke tempat pelelangan ikannya.)

Sampai di tempat, ternyata masih aja yang telat gitu. As expected Indonesian. Well, tak apa lah, yang penting molornya ga lama-lama amat #eh

Sekitar jam 9 pagi, kapal pun meninggalkan dermaga, menuju pulau pertama, yaitu Pulau Kelor!..



#bersambung

#lagimalesnulisajasihsebenernya