Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 April 2014

Tenggelam dalam Lautan Fiksi (Part II: Those Who Never Fails to Amuse Me)

Selain game, film adalah teman fiktif kedua ku kalau lagi sendirian. Aku pribadi sebenarnya ga mempermasalahkan siapa yang membuat/ memerankan film tersebut. Selama jalan ceritanya enak diikuti, so pasti aku tonton. Nah, kalau bicara soal preference, aku punya empat sutradara (ga semuanya full sutradara, ada juga yang ngerangkap posisi lain seperti chara design) yang entah kenapa selalu berhasil bikin aku gampang notice ciri khas masing-masing. Berikut ini sutradara yang dimaksud plus gaya khas bikin film nya: 

1. Quentin Tarantino

Sebagian besar orang sudah ga asing sama saga Kill Bill Vol 1 dan 2. Sutradara asal Tennessee, Amrik ini sebenarnya ga cuma dikenal berkat aksi seorang Beatrix Kiddo dalam membalaskan dendamnya terhadap mantan pacarnya ini doang lho! Jauh sebelum Kill Bill, Quentin Tarantino udah bikin film-film dengan alur dan gaya cerita yang nyeleneh, seperti Reservoir Dogs, Pulp Fiction, dan Jackie Brown. Dari segi pemilihan tema, Quentin Tarantino bukanlah sutradara yang suka membuat dunia yang terlampau fiktif; everything that happens/ happened around us is more than enough. Dengan sentuhan emasnya, dia bisa membuat jalan cerita yang unik, bahkan diluar nalar orang pada umumnya, seperti seorang stunt driver yang ternyata adalah pembunuh dalam Death Proof. Oh ya, komedi satir plus segmentasi film ke dalam beberapa chapter adalah ciri khas doi di beberapa filmnya. 

So, kata kunci buat sutradara berusia 51 tahun ini adalah: unusual plot

2. Mamoru Oshii
Sebenernya aku ga terlalu tahu ciri khas sutradara ini kalau dia ga team up sama Kenji Kawai sebagai music composer nya. Film pertama yang aku tonton adalah Patlabor the Movie. Kesan yang aku tonton pas nonton film nya benar-benar beda sama apa yang aku dapat dari serial tv nya; suasana cerita bener-bener, how should I put it, semi-dark, relaxing, dan ketegangan cerita yang dibangun secara perlahan-lahan. Ga cuma Patlabor aja, film-film lain seperti Ghost in the Shell, Jin Roh, dan Assault Girls pun seolah punya nuansa yang sama, meskipun tema dan setting ketiga film tersebut jauh berbeda. Mamoru Oshii berusaha menampilkan unsur realisme yang dipadu dengan imajinasi dalam karya-karyanya. 

Kata kunci buat menggambarkan salah satu sutradara anime veteran ini adalah: atmosphere making


3. Shotaro Ishinomori
Bisa dibilang, beliau adalah salah satu mangaka generasi awal yang cukup berpengaruh hingga saat ini. Shotaro Ishinomori terkenal lewat karya-karya legendaris seperti Cyborg 009 dan Kamen Rider. Dua judul tersebut sebenarnya sudah bisa merepresentasikan ciri khas dari karya-karya beliau; manusia dengan kekuatan super. Tengok saja karya-karya lainnya seperti Inazuman dan Kikaider yang kental akan nuansa rekayasa teknologi. Musuh dari sang jagoan utama kebanyakan berwujud organisasi rahasia dengan tujuan utama yang masih cukup absurd di awal-awal cerita, sehingga menciptakan kesan horor juga mewarnai di hampir semua karyanya, seperti di Skull Man. Oh ya 1 lagi, most heroes wear scarf!

Ga berlebihan rasanya kalau kata kunci yang tepat buat Shotaro Ishinomori adalah: realm making

4. Keita Amemiya
Jauh sebelum Garo, beberapa dari kita udah pernah nonton Choujin Sentai Jetman di TV. Keita Amemiya berhasil bikin serial sentai yang dibumbui konflik personal dan cinta segitiga antar karakter utamanya, padahal target penonton utama serial yang diadaptasi ke US jadi Power Rangers ini  adalah anak-anak! Tapi menurutku, bukan itu kekuatan utama sutradara yang kerap tampil mengenakan topi hitam ini. Dia ahli menggabungkan hal-hal berbau etnis tradisional dan futuristik ke dalam karya-karyanya. Kombinasi tersebut bisa dilihat dalam Zeiram, Mirai Ninja, serta franchise yang masih on going hingga sekarang, Garo dan Gouraigan.


Hampir sama dengan Shotaro Ishinomori, kata kunci yang bisa disematkan kepada Keita Amemiya adalah: realm making


Kamis, 15 April 2010

Jubah VS Armor

Apa yang terlintas dalam benak kalian begitu saya bilang American Superhero? Tentu yang terbesit pertama kali adalah Batman, lalu mungkin diikuti dengan Superman, Spiderman, Wonder Woman, X-MEN, atau jagoan-jagoan negeri Paman Sam yang lain. Sekarang, bagaimana kalau saya mengatakan kepada kamu semua Japanese Superhero? Pasti pikiranmu tertuju sama Kamen Rider, atau Satria Baja Hitam. Atau mungkin Ultraman? Yah, darimanapun asalnya, superhero memang selalu asyik untuk dibahas dari berbagai sudut, mulai dari asal karakter tersebut diciptakan, karakter-karakter pendampingnya, atau berbagai macam elemen lain yang mengikuti superhero-superhero tersebut. Kali ini saya akan membahas perbandingan mengenai superhero buatan Amerika dan superhero buatan Jepang. Kita tahu kepopuleran superhero dari kedua negara ini sudah tak perlu diragukan lagi, apalagi dikalangan anak-anak. Apa sajakah perbedaan-perbedaan yang cukup jelas dari superhero-superhero yang berasal dari kedua negara ini? Mari kita ikuti bahasan saya dibawah ini.

Amerika Serikat mempunyai segudang karakter superhero yang rata-rata memulai “debut” nya melalui media buku komik. Tokoh-tokoh seperti Batman, Superman, Spiderman, Wonder Woman, dan lainnya telah ada dalam bentuk komik sekitar periode 60-an sampai 80-an. Kemudian superhero-superhero tersebut diangkat oleh pihak studio animasi untuk dibuat versi animasinya sebelum dibuat versi live actionnya. Sedangkan hampir semua superhero Jepang telah dibuat versi live action (dimana di Jepang biasa disebut dengan istilah tokusatsu) terlebih dahulu sebelum akhirnya dibuat versi manga nya.

Ciri-ciri fisik superhero Amerika dan Jepang sangatlah jelas. Superhero Amerika cenderung menggunakan suit yang menutup badan. Sedangkan muka mereka cenderung dibiarkan terbuka atau mengenakan topeng yang tidak menutup seluruh kepala mereka. Sedangkan superhero Jepang cenderung mengenakan pakaian khusus yang menutupi seluruh badan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Biasanya penutup muka mereka berbentuk helm. Bentuk pakaian mereka pun berbeda. Superhero Amerika cenderung menggunakan pakaian berbentuk suit dan tak lupa mengenakan jubah, sedangkan pakaian superhero Jepang cenderung tampak lebih ber “armor” dan tebal.

Kota asal sang pemilik kekuatan super hero pun tak pernah lupa dicantumkan sang pencipta superhero. Gotham, New York, dan Detroit adalah 3 contoh kota asal superhero terkenal asal Amerika. Hal ini berseberangan dengan para superhero Jepang yang kebanyakan tak pernah menyebutkan asal kota mereka. Atau walaupun disebutkan, kota tersebut tak pernah menjadi sebuah trademark bagi sebuah superhero Jepang.

Senjata para superhero Amerika cenderung lebih simpel dan tetap. Sebagai contoh Superman memiliki senjata sinar laser yang keluar dari matanya. Spiderman dapat mengeluarkan jaring laba-laba dari tangannya. Sebenarnya, superhero Jepang pun mempunyai trademark dalam hal senjata utama. Misal Kamen Rider dengan Rider Kick, atau Ultraman dengan sinar laser yang keluar dari tangan kirinya. Tapi, seiring perkembangan jaman, trademark itu pun menjadi lebih bervariasi. Sebagai contoh gerakan Rider Kick sekarang jauh lebih bervariasi daripada gerakan Rider Kick milik Kamen Rider terdahulu. Senjata-senjata seperti pedang, pistol, atau kapak pun sekarang menjadi senjata utama mereka disamping tendangan.

Pernahkah kamu melihat Clark Kent bertarung menghadapi musuh-musuhnya tanpa melakukan perubahan terlebih dahulu? Atau, pernahkah ada adegan Peter Parker dengan gagahnya melawan anak buahnya Green Goblin tanpa kostum merah kesayangannya? Itulah perbedaan lain antara superhero Amerika dan Jepang. Kronologi perubahan pada superhero Amerika tersebut antara lain: Musuh mengacau-penduduk panik-superhero datang dengan pakaian kebanggaanya. Sedangkan kronologi perubahan pada superhero Jepang adalah: Musuh mengacau-sang karakter bertarung dengan kekuatan seadanya-bila terdesak, dia langsung melakukan perubahan di depan musuh.

Tidak akan ada Batman bila tidak ada Joker, Mr. Freeze, Poison Eve, dan lainnya. Begitupun dengan Takeshi Hongo yang tak akan pernah menjadi Kamen Rider bila tak ada Shocker. Musuh sang jagoan utama memang menjadi daya tarik tersendiri dari sebuah kisah superhero. Tentu ada berbagai macam perbedaan dari masing-masing vilain atau karakter jahat. Jika kita amati, musuh-musuh superhero Amerika adalah berupa bandit, teroris, atau penjahat dengan kejeniusan tingkat tinggi. Sedangkan musuh-musuh superhero Jepang kebanyakan adalah monster, alien, atau bahkan hantu. Tetapi, hal ini tidaklah mutlak. Kita tahu Lex Luthor adalah manusia biasa yang akhirnya juga bekerjasama dengan alien.

Sekarang, kita beralih ke pose para karakter sebelum melakukan perubahan wujud. Para jagoan Paman Sam cenderung melakukan perubahan wujud secara sembunyi-sembunyi dan tanpa melakukan pose-pose tertentu demi mendapatkan kekuatan super. Hal ini bertentangan dengan superhero Jepang yang kebanyakan melakukan berbagai macam pose untuk melakukan perubahan wujud. Adapun sebagai contoh adalah Kamen Rider yang melakukan perubahan wujud dengan mengacungkan tangan ke atas lalu meneriakkan “HENSHIN!” yang mempunyai arti berubah. Adapun Henshin dan Shochaku (memasang) adalah dua contoh kata keramat yang biasa diteriakkan para superhero Jepang saat melakukan perubahan. Terkait dengan perubahan wujud, ada lagi perbedaan yang terdapat pada keduanya. Superhero Amerika tidak mempunyai alat tertentu untuk dapat melakukan perubahan. Sedangkan superhero jepang mempunyai berbagai macam alat perubahan, mulai dari sabuk, gelang, bahkan sampai HP dimana HP tersebut saat ini sedang menjadi trend bagi salah satu superhero Jepang, Super Sentai.

Superhero Jepang mempunyai bentuk yang terus berkembang mengikuti perkembangan jaman. Di sini saya akan menyebut istilah “franchise” untuk menyebut salah satu superhero. Sebuah franchise superhero Jepang cenderung mempunyai bentuk dan jalan cerita yang jauh berbeda dengan franchise-franchise pendahulunya. Ultraman versi pertama yang diciptakan sekitar tahun 60-an tentu jauh berbeda dengan Ultraman terbaru seperti Nexus, Max, ataupun Mobius. Tapi, tentu saja perbedaan tersebut masih ada batasan-batasannya. Ultraman tentulah seorang superhero yang tingginya 30 meter ke atas. Dalam serial Ultraman, tentu ada sebuah organisasi semi militer yang bertugas melindungi bumi dari bahaya monster-monster raksasa. Itulah contoh batasan-batasan yang terdapapat dalam suatu franchise superhero Jepang. Sedangkan sebuah franchise superhero Amerika cenderung memiliki kesamaan dari waktu ke waktu. Dari pertama kali diciptakan sampai diangkat ke layar lebar sebanyak tiga kali, tokoh utama dalam franchise Spiderman tetaplah sang jurnalis yang bekerja di Daily Bugle, Peter Parker.

Itulah beberapa perbedaan yang terlihat antara karakter-karakter fiksi superhero asal Amerika dan Jepang. Sebenarnya masih banyak lagi perbedaan-perbedaan yang menjadikan sebuah trademark bagi kedua superhero tersebut. Namun yang pasti, perbedaan asal superhero tersebut adalah sebuah pencerminan dari keadaan lingkungan masing-masing negara. Hal teersebut tentu saja dapat menjadi cerminan karakter orang dalam masing-masing negara.

GODZILLA: SEJARAH PERJALANAN SANG KADAL RAKSASA

Film. Kita semua pasti pernah melihat hal yang satu ini. Sama seperti musik, film telah menjadi bagian dari kehidupan setiap orang. Realita masyarakat yang ada di sekitar kita pun dapat digambarkan oleh film, baik secara nyata (tanpa rekayasa), atau dengan beberapa pemutarbalikan fakta. Tujuan pembuatan film pun bermacam-macam. Ada yang ditujukan untuk kepentingan hiburan semata, namun ada film yang mempunyai berbagai macam kepentingan disamping kepentingan hiburan, misalkan kepentingan propaganda. Film pun terdiri dari berbagai macam unsur, diantaranya adalah spesial efek. Kali ini, saya akan membahas film spesial efek yang berasal dari Negara Jepang. Dalam hal film spesial efek, Jepang mempunyai peran yang cukup besar dalam melahirkan berbagai macam karya film spesial efek, bahkan hingga mempunyai fans di seluruh dunia. Film spesial efek yang berasal dari Negara Jepang biasa disebut dengan istilah ”tokusatsu”.

Tokusatsu (tokusou shatsuei=spesial effect) adalah sebuah istilah yang umum digunakan untuk menyebutkan film-film dengan spesial efek buatan negeri Sakura tersebut. Film tokusatsu sendiri, menurut wikipedia.org, berasal dari seni pertunjukan Kabuki dan Bunraku, dimana kedua pertunjukan tradisional tersebut mempunyai unsur yang menjadi ciri khas tokusatsu, yaitu adegan bertarung dan spesial efek. Film tokusatsu terdiri dari berbagai jenis, seperti monster (kaiju), Kyodai Hero (Superhero berbadan besar), dan sebagainya. Dari berbagai jenis film tokusatsu tersebut, kaiju lah yang mempunyai andil yang besar dalam perkembangan film tokusatsu di Jepang. Dari sekian banyak kaiju yang ada di Jepang, Godzilla adalah kaiju yang sangat mempunyai nama, baik di dalam negeri maupun luar negeri Jepang. Sebenarnya, apa yang membuat monster yang menyerupai dinosaurus ini begitu terkenal, hingga muncul banyak versi? Lalu, bagaimanakah sejarah film kaiju ini dibuat? Paper ini bertujuan untuk mengajak anda menyelami lebih jauh lagi lautan "tempat hidup" sang kadal raksasa buatan Toho ini.

I. KAIJU: GODZILLA


Film tokusatsu memulai pergerakannya pada sekitar dekade 50 an, dengan munculnya film monster yang hingga sekarang masih dikenal oleh masyarakat luas, yaitu Godzilla. Monster fantasi buatan Tomoyuki Tanaka yang dinaungi oleh rumah produksi Toho ini berhasil menyedot perhatian para penggemar film fantasi di seluruh dunia hingga beberapa dekade. Bahkan, Godzilla juga dibuat sampai beberapa sekuel, termasuk film Godzilla buatan Hollywood pada tahun 1998. Bila dilihat dari unsur sejarah, Godzilla mempunyai perjalanan yang sangat panjang dan unik. Misalnya, nama Godzilla, ternyata mengambil dari dua ekor hewan yang menurut Tomoyuki melambangkan kekuatan dan tempat hidup sang raksasa tersebut. Adapun kedua hewan tersebut adalah gorilla dan kujira (paus) (http://en.wikipedia.org/wiki/Godzilla). Dalam hal pengucapan, ada perbedaan cara yang dilakukan oleh orang barat dan Jepang. Orang Jepang biasa menyebut makhluk ini dengan sebutan "gojira". Namun, orang barat cenderung seolah-olah "mendewakan" makhluk ini dengan menyebutnya sebagai [gɑd'zɪlə]. Suku kata pertama diucapkan "god" yang mempunyai arti dewa. Hal ini mungkin disebabkan masyarakat barat menganggap makhluk raksasa fiksi ini sama hebatnya dengan King Kong, makhluk raksasa yang sebelumnya telah mereka kenal.




Bentuk monster Godzilla dari masa ke masa (en.wikipedia.org/godzilla)

Godzilla memulai aksinya pada film pertamanya tahun 1954. Haruo Nakajima pun mulai membangkitkan semangat penghancuran pada monster kadal ini dengan berperan sebagai suit actor. Kisah Godzilla generasi pertama ini bermula saat kapal "Eiko Maru" yang sedang berlayar di sekitar pulau Odo diserang oleh sebuah kilatan cahaya dan tenggelam. Sejak saat itu, seluruh penduduk Jepang, mulai dari ilmuwan, tentara, bahkan rakyat sipil pun berusaha menguak keberadaan kilatan cahaya misterius yang ternyata berasal dari Godzilla. Dalam film pertamanya, Godzilla berhasil meraih angka penjualan tiket sebanyak 9.160.000 buah dan meraup keuntungan sebesar 152 juta Yen.

Namun, dibalik kesuksesan film Godzilla pertama ini, terdapat sebuah isu yang cukup heboh berkaitan dengan film ini. Film ini dianggap membeberkan penderitaan Bangsa Jepang pasca Perang Dunia II, terutama peristiwa pengeboman di Hiroshima dan Nagasaki. Seperti yang kita tahu, Godzilla adalah makhluk sebangsa kadal yang menjadi buas akibat pengaruh dari radiasi nuklir. Dia juga melakukan aksi penghancuran kota hingga mengakibatkan korban tewas dan kerusakan infrastruktur yang tak bisa dihitung jumlahnya. Inilah scene yang dianggap oleh banyak kritikus film, baik yang berasal dari Jepang maupun luar Jepang, sebagai pencerminan kekalahan Jepang pada Perang Dunia II.

Walaupun film ini dihantui isu yang menyertai perjalanannya, Godzilla tetap mendapatkan berbagai macam pujian, khususnya di kalangan penggemar film yang bertema monster. Bahkan, film Godzilla dibuat hingga banyak sekuel. Selain itu, Toho juga memadukan Godzilla beserta monster-monster yang lain untuk menciptakan sebuah ketegangan baru. Adapun monster-monster tersebut adalah Gamera, Mothra, dan King Ghidorah dimana mereka juga memiliki film tersendiri.

II. GODZILLA DI AMERIKA SERIKAT

A. Godzilla Buatan Marvel

Anda pasti mengira Godzilla versi Amerika Serikat pertama kali muncul pada film Godzilla buatan Hollywood tahun 1998. Tidak. Jauh sebelum tahun 1998, sekitar tahun 70 an, Marvel telah mengeluarkan komik yang mempunyai tokoh utama Godzilla. Marvel mendapatkan lisensi dari Toho untuk membuat versi Amerika dari Godzilla dengan syarat-syarat tertentu. Salah satu syarat utamanya adalah bentuk karakter dari Godzilla harus benar-benar berbeda dari Godzilla ciptaan Toho. Maka tidak heran bila bentuk Godzilla ciptaan Marvel, dimana komiknya berjudul ”Godzilla, King of Monster”, memiliki perbedaan yang cukup menyolok bila dibandingkan Godzilla ciptaan Toho. Bentuk tubuh Godzilla buatan Marvel cenderung lebih berisi, dan lebih ”gemuk” bila dibandingkan dengan Godzilla-nya Toho. Bahkan, bisa dibilang bentuk Godzilla ini lebih mirip T-Rex. Selain itu, senjata utama Godzilla Amerika bukanlah sinar laser berradiasi yang berasal dari punggungnya (atomic ray), melainkan semburan api mirip naga yang berasal dari Eropa.

Itu tadi perbedaan bentuk tubuh Godzilla Amerika dibandingkan dengan Godzilla Jepang. Dari segi cerita, ternyata Godzilla Amerika juga tak bisa lepas dari pengaruh budaya lokal. Dalam beberapa komiknya, Godzilla bertemu dengan tokoh superhero tenar buatan Marvel, seperti Fantasic Four, the Avenger, dan S.H.I.E.L.D.

Berikut adalah contoh kover depan komik Godzilla ciptaan Marvel:




Seperti yang anda bisa lihat pada komik sebelah kiri anda, tampak Godzilla sedang mengeluarkan senjata utamanya, yaitu semburan api yang berasal dari mulutnya. Ada yang menarik bila kita lihat kover komik Godzilla sebelah kanan anda. Selain menampilkan Godzilla sebagai tokoh utama, kover tersebut juga menampilkan beberapa superhero asli buatan Marvel seperti Iron Man dan Thor. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, tampak bahwa para superhero tersebut sedang menyusun suatu rencana untuk mengalahkan Godzilla sang penghancur kota.

B. Godzilla Buatan Hollywood




Godzilla tahun 1998 buatan Hollywood

Saya yakin, anda pasti sudah tidak asing lagi dengan film Godzilla buatan Hollywood ini. Sama seperti Godzilla karya Marvel, bentuk Godzilla buatan Hollywood mengalami beberapa perubahan yang bisa dikatakan sangat drastis-jauh lebih drastis dibandingkan Godzilla buatan Marvel yang notabene adalah juga merupakan hasil remake. Kalau Godzilla buatan Jepang bentuknya cenderung gemuk dan berotot, Godzilla karya Hollywood ini mempunyai bentuk tubuh yang lebih slim atau kurus. Selain itu Patrick Tatopolous, sang designer Godzilla, menambahkan kelebihan dari Godzilla ini. Adapun kelebihan tersebut adalah kemampuan berlari dengan sangat cepat. Maka tak heran bila setiap kali kita melihat setiap gerakan Godzilla tersebut, tampak monster tersebut berlari dengan sangat cepat, walaupun ia memiliki tubuh yang sangat besar. Cukup aneh memang, namun Godzilla dengan karakteristik seperti ini mampu meraih keuntungan bahkan menembus pasar internasional dengan jumlah keuntungan bersih sekitar US$379.014.294.

Meskipun film ini meraih keuntungan yang sangat fantastis, bukan berarti Godzilla versi remake ini bebas dari kritikan. Beberapa kritikus film memberi label buruk pada film ini. Salah satu titik kelemahan film ini adalah penggunaan motion capture yang dinilai kurang sempurna. Walaupun penggunaan motion capture untuk karakter Godzilla ini sudah dikerjakan dengan maksimal, hasilnya tetap saja nampak seperti orang yang mengenakan kostum.

III. KESIMPULAN

Godzilla adalah tonggak lahirnya karakter-karakter kaiju yang lain, seperti Gamera, Mothra, dan lain-lain. Film ini bisa dibilang sangat fantastis, dan bersejarah. Walaupun pada awal kemunculannya sempat dianggap menjatuhkan martabat bangsa Jepang yang waktu itu sedang kalah perang, namun film Godzilla ini tetap mendapatkan tempat di hati para penggemarnya di seluruh dunia. Bahkan, berbagai macam versi Godzilla pun lahir, seperti Mecha Godzilla dan Godzilla versi Amerika Serikat.

Memang, saat ini Toho tengah menghentikan sekuel dari film Godzilla. Film Godzilla paling akhir dibuat tahun 2004, dengan judul Godzilla: Final Wars. Namun, pihak Toho mengatakan bahwa film Godzilla akan kembali hadir pada tahun 2013. Mengapa demikian lama? Pihak produser Toho beralasan bahwa mereka sedang menanti generasi baru penggemar film kaiju. Dengan demikian, mereka bisa membuat ide-ide cerita yang jauh lebih segar dan beda daripada biasanya. (http://giantmonsters.blogspot.com/2005/08/godzilla-return-scheduled-for-2013.html).

Sumber:

-(http://en.wikipedia.org/Godzilla).

-(http://giantmonsters.blogspot.com/2005/08/godzilla-return-scheduled-for-2013.html).

-(http://en.wikipedia.org/godzilla(_1954_film)

-(http://en.wikipedia.org/

-(http://giantmonstersattack.blogspot.com/2008/06/book-review-essential-godzilla.html).

-(http://en.wikipedia.org/wiki/Godzilla_(1998_film))

-(http://giantmonsters.blogspot.com/2007/03/godzillas-storytelling-engine.html)

Selasa, 13 April 2010

Bionicle: The Legend Reborn; Suatu Gabungan Avatar dan Transformers?


Bagi anda yang hobi dengan toy collection, anda pasti sudah tak asing lagi dengan mainan Bionicle. Namun, saya yakin banyak orang yang tidak terlalu mengenal Bionicle. Baiklah, untuk mengawali resensi film saya kali ini, saya akan sedikit menjelaskan apa itu Bionicle. Produk mainan ini mulai diperkenalkan oleh Lego pada awal tahun 2001. Bionicle mempunyai alur cerita kurang lebih mengenai kisah sekelompok prajurit Toa yang tinggal di pulau Mata Nui. Mereka berusaha memertahankan pulau mereka dari serangan Makuta dan kelompoknya. Kurang lebih, begitulah kisah Bionicle berawal.

Nah, di film terbaru dari Bionicle ini, Mata Nui, pulau yang dihuni oleh para Matoran yang berasal dari Aqua Magna tersebut telah diambil alih oleh Makuta Teridax, salah satu kekuatan jahat tersebut yang rupanya merupakan saudaranya Mata Nui. Karena peristiwa ini, spirit dari Mata Nui pun melakukan perjalanan menuju Bara Magna untuk mencari bala bantuan. Disanalah, ia bertemu banyak teman sekaligus musuh. Ketika mengetahui bahwa Glatorian, penduduk Bara Magna tengah menghadapi ancaman dari segerombolan Bone Hunters dan Skrall, ia pun bersedia untuk membantu mengusir kelompok tersebut. Ia pun bertemu dengan Ackar; salah satu Glatorian dari desa Agori, Kiina yang berasal dari desa Tajun, Gresh; Glatorian pemula dari desa Tesara, dan Berix; seorang kolektor yang justru disebut-sebut oleh Kiina sebagai pencuri. Setelah pertemuan tersebut, mereka menuju desa Tesara untuk memeringatkan warganya supaya berhati-hati dengan serangan Skrall yang telah berkomplot dengan para Bone Hunters. Namun, ditengah upaya meyakinkan para penduduk desa tersebut, muncul kabar bahwa Kiina dan Berix telah diculik oleh para Bone Hunters. Merasa terpanggil, Mata Nui pun berupaya menolong mereka sekaligus mengalahkan gerombolan Skrall dan Bone Hunters. Tak disangkanya, ia pun bertemu dengan kawan yang rupanya merupakan seorang pengkhianat yang menyebarkan informasi tentang rencananya kepada para Bone Hunters. Siapakah dia? Mengapa ia tega melakukan hal tersebut? Mampukah kelompok ini mengalahkan Skrall dan Bone Hunters? Rasa penasaran terhadap kisah Glatorian ini dapat anda saksikan dalam film yang berdurasi 1 jam 17 menit ini. Banyak sekali kejutan yang akan anda temui.

Sekarang mari kita kemballi ke benang merah dari judul di atas. Kesan pertama yang saya tangkap dari suasana film ini dari awal hingga akhir adalah...AVATAR dan TRANSFORMERS! Unsur-unsur yang bisa dibilang sebagai penggabungan kedua film tersebut adalah:

- Mata Nui: Tokoh ini benar-benar merepresentasikan Jake Sully dan Optimus Prime. Gaya intonasi berbicara, sikapnya ketika menghadapi orang lain, dan semangat menjaga "TRUE WARRIOR" dalam dirinya mirip dengan pemimpin Autobot tersebut. Ia berasal dari dunia lain (bukan alam gaib!), berusaha meyakinkan seluruh Glatorian untuk menghadapi serangan kelompok jahat. Jake Sully, anyone? Memang, pada awal-awal kedatangannya di Bara Magna ia cukup disambut dengan tangan terbuka, tak seperti Jake yang sempat diusir oleh Neytiri. Satu hal lagi yang menyamakan kedua karakter tersebut. Mereka disambut oleh segerombolan makhluk buas sebelum akhirnya mendapatkan bala bantuan. Jake dibantu oleh Neytiri, sedangkan Mata Nui mendapat kawan baru berupa kumbang scarab yang dapat berubah menjadi sebuah perisai.

-Bentukan karakter: Saya baru menyadari hal ini ketika menyaksikan film ini kemarin. Kalau anda perhatikan, ternyata karakter-karakter dalam Bionicle ini cukup mirip dengan kelompok-kelompok dalam film layar lebar live-action-nya Transformers. Untuk hal ini, saya tak dapat berkata-kata lebih banyak. Supaya dapat mengetahuinya, sebaiknya anda coba browsing beberapa gambar Bionicle dan cobalah bandingkan!

Sejauh ini, hanya dua poin tersebut yang saya ketahui. Masih banyak lagi hal yang sebenarnya mirip, namun belum tertangkap oleh mata saya. Oleh karenanya, saya akan mencari tahu lagi. Atau mungkin, teman-teman pernah melihat film ini dan tahu apa saja persamaannya? Silakan saja share di sini....